Pirolisis plastik − ahli kimia menjelaskan sebuah teknik yang mencoba mengatasi limbah plastik dengan menggunakan panas

Pada tahun 1950, produksi plastik global sekitar 2 juta ton. Kini, jumlahnya mencapai sekitar 400 juta ton – peningkatan hampir 20.000%.
Sebagai material, potensinya seolah tak terbatas. Plastik murah untuk diproduksi, ringan, dan kokoh. Aplikasinya beragam, mulai dari pengemasan makanan dan minuman hingga pakaian dan perawatan kesehatan.
Ketika barang plastik berakhir masa pakainya, ia membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai, bahkan hingga 500 tahun dalam beberapa kasus. Meskipun demikian, serpihan plastik tidak hilang sepenuhnya – melainkan terurai menjadi potongan-potongan yang semakin kecil, yang pada akhirnya menjadi mikroplastik yang berakhir di tanah tempat kita menanam makanan, air yang kita minum, dan udara yang kita hirup.
Penelitian telah menghubungkan mikroplastik ini dengan masalah kesehatan seperti diabetes, penyakit jantung, dan rendahnya kesuburan pria.
Selama bertahun-tahun, pemerintah daerah dan produsen mengandalkan daur ulang sebagai solusi untuk mencegah penumpukan sampah plastik. Namun, terlepas dari upaya mereka untuk memilah dan memisahkan bahan daur ulang, sebagian besar plastik masih berakhir di tempat pembuangan akhir – atau lebih buruk lagi, di ruang terbuka hijau dan perairan.
Karena plastik sangat umum digunakan, menemukan cara baru untuk mengelola dan mendaur ulang sampah plastik menjadi semakin penting. Pirolisis sampah plastik adalah salah satu teknologi yang dapat membantu mengatasi masalah ini.
Ini adalah teknik yang relatif baru, sehingga para peneliti masih memiliki pengetahuan terbatas tentang proses pirolisis. Sebagai ahli kimia analitik, kami berupaya memahami komposisi campuran kompleks, terutama campuran baru yang berasal dari sumber seperti pirolisis sampah plastik.
Manfaat pirolisis
Bila dilakukan secara efektif, pirolisis plastik menawarkan beberapa manfaat.
Dengan memperluas daur ulang melampaui sekadar botol plastik dan botol susu, pirolisis dapat mengurangi jumlah polusi limbah plastik yang berakhir di tempat pembuangan sampah dan lautan.
Selain itu, mengubah sampah plastik menjadi produk yang dapat digunakan dapat membantu menurunkan permintaan produksi plastik baru dari hidrokarbon minyak bumi. Produk sampingannya dapat digunakan dalam plastik daur ulang.
Beberapa peneliti juga menguji minyak pirolisis untuk melihat apakah mereka dapat menggunakannya sebagai pengganti bensin untuk bahan bakar kendaraan. Gas yang dihasilkan selama pirolisis bahkan dapat menghasilkan energi yang menggerakkan reaktor pirolisis, sehingga prosesnya lebih mandiri dan mengurangi kebutuhan akan sumber energi eksternal.
Saat ini, sekitar 15% hingga 20% produk pirolisis didaur ulang menjadi propilena dan etilena baru, sementara sebagian besar – sekitar 80% hingga 85% – menjadi bahan bakar diesel, hidrogen, metana, dan bahan kimia lainnya.
Meskipun pirolisis plastik menjanjikan, prosesnya juga menghadapi tantangan. Biaya pembangunan dan pengoperasian pabrik pirolisis cukup tinggi. Tingkat keuntungan proses ini bergantung pada ketersediaan limbah plastik yang sesuai, permintaan pasar terhadap minyak dan gas yang dihasilkan, serta biaya energi dan tenaga kerja yang dibutuhkan untuk mengoperasikan reaktor.
Masalah lainnya adalah kontrol kualitas. Sebagian besar jenis plastik dapat mengalami pirolisis, tetapi plastik yang berbeda menghasilkan minyak dengan komposisi kimia yang berbeda. Para ilmuwan perlu memahami komposisi minyak ini sebelum industri dapat menentukan jenis plastik mana yang perlu difokuskan dan bagaimana setiap minyak dapat menghasilkan material baru.










